Posted by: blogklipingppshk | January 15, 2009

Penanganan Pasca Banjir Kalimantan Barat;

PERLU DITANGANI DALAM SATU MANAGEMENT SUNGAI KAPUAS

Banjir yang terjadi di hamparan propinsi Kalimantan Barat sejak pertengahan Desember 2004 hingga awal Januari 2005, menandakan terjadinya perubahan ekosistem di daerah yang sebelumnya dikenal dengan rimbunnya hutan. Wilayah daratan propinsi ini berbatasan langsung dengan Malaysia. Ribuan hektar tanaman hijau terhampar dalam hutan belantara di areal seluas 146.807 kilometer persegi itu, sekarang sebagaian besarnya sudah gundul.

Johan (50) warga Desa Pasir-Kecamatan Mempawah-Kabupaten Pontianak mengaku banjir yang terjadi menggenangi desanya selama lebih kurang 15 hari ini cukup besar selain banjir besar yang juga menerpa desanya pada tahun 2002. Banjir yang terjadi sejak 26 Desember setinggi ± 1 meter ini dan memang bertepatan saatnya dengan gempa-tsunami Aceh, menggenangi ribuan hektar tanaman padi rawa dan lada warga. “Sejak tinggal di sini tahun 1974, kami tidak pernah mengalami banjir seperti sekarang. Memang sejak tahun 1985 banjir beberapa kali terjadi namun hanya setinggi mata kaki orang dewasa dan itu terjadi hanya satu hari. Tetapi kejadian banjir ini semakin dahsyat dirasakan sejak tahun 2000. Tiap tahun kami harus merasakan banjir tidak kurang dari satu meter dan itu terjadi selama beberapa hari,” ungkap Johan.

Hal serupa juga dirasakan oleh warga di kabupaten lain seperti Singkawang, Sanggau, dan Sambas di Kecamatan Selakau dan Semelagi  . Daerah yang sebagian besarnya rawa ini termasuk langganan banjir tiap tahunnya namun tidak setinggi tahun ini. “Kami sudah tinggal di Selakau ini berpuluh-puluh tahun. Tapi tidak pernah banjir setinggi  tahun ini. Banjir setinggi ini memang pernah terjadi tahun 2002 lalu,” kisah Amin.

Menurutnya, rata-rata warga bekerja sebagai petani padi dan lada. Ciri khas petani di daerah Kalimantan Barat ini rata-rata menanam padi jenis rawa yang menghasilkan gabah kering sekitar 1,5-2,5 ton per hektar pada setiap musim tanam. Setelah menanam padi, tanaman ditinggalkan dan petani melakukan pekerjaan lain seperti beternak atau menebang pohon di hutan. Perilaku penebangan ini diakui mereka karena adanya  penghasilan yang lumayan didapat. Walau mereka menyadari perilaku itu akhirnya merugikan warga sendiri.

Kasubdin Pengairan Kalbar Ramdhannuddin menjelaskan, banjir yang terjadi kali ini memang tidak setinggi pada tahun 2002. Namun penyebarannya lebih banyak dibanding tahun sebelumnya, seperti di kabupaten Sanggau dan Kota Mempawah dan sekitarnya. Sebelumnya didaerah tersebut tidak banjir tetapi sekarang tergenangi hingga satu meter. “Bahkan jalan menuju perbatasan Entikong yakni ruas Kembayan yang tergenang hingga 80 cm dan mengakibatkan ruas ini terputus selama tiga hari,”jelas Ramdhannuddin. Kejadian ini terjadi karena meluapnya Sungai Sekayam yang merupakan anak sungai Kapuas, akibat terjadinya pendangkalan sungai dan meningkatnya perbedaan fluktuasi muka air sungai.

Penanganan Kapuas dalam satu management

Kalimantan Barat yang secara geografis memiliki tipe lahan yang terbagi dua, yakni rawa datar pada wilayah Pontianak, Singkawang, Ketapang dan Sambas serta pengunungan pada wilayah Sintang, Sekadau, Kapuas Hulu, Bengkayang, Melawi dan Sanggau. Saat ini Terdapat tiga Satuan Wilayah Sungai yaitu : SWS Kapuas, SWS Sambas-Mempawah dan SWS Pawan yang kesemuanya bermuara di Selat Karimata.

Karena kondisi perubahan topografi yang drastis antara pegunungan dengan dataran rendah, maka aliran permukaan dari pegunungan Schwaner dan Muller di bagian hulu Sungai Kapuas, melaju dengan deras ke daerah dataran rendah melalui anak-anak sungai Kapuas. Sehingga daerah-daerah dataran rendah yang dilalui sungai Kapuas antara lain : Putu Sibau, Sintang dan Sanggau kerap kali banjir. Ditambah lagi kerusakan DAS berupa penggundulan hutan akhir-akhir ini, menambah peningkatan frekuensi dan tingginya genangan serta peningkatan sedimentasi yang mengurangi kapasitas aliran sungai.

Sungai-sungai yang ada oleh warga selain dipakai sebagai alat transportasi juga dipakai sebagai alat bagi jalannya kayu hasil tebangan menuju hilir. Selain lebih murah juga praktis. Akibatnya, sejumlah prasarana seperti dinding sungai, saluran irigasi yang dibangun menjadi rusak karena terkena hempasan kayu gelondongan.

Untuk mengatasi hal ini maka pembelajaran dan peningkatan kesadaran masyarakat harus dilakukan segera. Selain itu penanganan sungai harus dikerjakan dalam satu manajemen (one river, one plan, one management). Sehingga penanganan sungai dapat ditangani secara komprehensif dari hulu hingga hilirnya sebagai satu kesatuan hidrologis. “Saat ini kami sedang mengusulkan penyusunan Pola dan Master Plan Wilayah Sungai Kapuas, dan mudah-mudahan dapat dimulai pada tahun ini,” jelas Kasubdit Wilayah Tengah III Bagian Kalbar dan Kalteng, Agni Handoyoputro usai mengunjungi sejumlah lokasi banjir di Kalbar akhir pekan lalu (25-29/01) yang sudah mulai surut.

Menurutnya, pola aliran air sungai di Kalbar sudah harus segera ditangani secara serius dan berkelanjutan. Selain itu juga pembelajaran kepada masyarakat akan dampak penebangan pohon harus digiatkan dan bekerja sama dengan instansi terkait untuk melakukan gerakan penghijauan. “Bila tidak segera dilakukan, maka tidak akan lama lagi Kalimantan bisa tenggelam,” katanya.

Selanjutnya ditegaskan bahwa penanganan yang secara komprehensif ini diperlukan agar terjadi kesinambungan dan kesatuan wilayah penanganan. Sebab sungai Kapuas yang cukup besar dan melintasi beberapa Kabupaten ini tidak bisa hanya ditangani secara lokal atau parsial. Bila penanganan penyodetan atau pengerukan hanya dilakukan di satu bagian wilayah saja, maka saat curah hujan tinggi maka sungai akan meluap lagi dan tidak menyelesaikan masalah utamanya. Hal ini dikarenakan penanganan yang hanya sepotong saja. Koordinasi pengelolaan sungai antara pemerintah pusat dengan daerah beserta para pemangku kepentingan (stake holder) harus benar-benar diwujudkan dalam suatu perencanaan yang matang dan terintegrasi, untuk menghindari kesimpang-siuran pengelolaan serta diselaraskan dengan UU No 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.

Oleh karenanya desakan penanganan dalam satu satuan wilayah Sungai Kapuas harus segera dilakukan untuk mengurangi banjir yang terjadi maupun untuk kepentingan lain secara lebih optimal dan berwawasan lingkungan. Selain itu tata ruang wilayah Kalimantan Barat harus ditata kembali agar terjadi keterpaduan dan keserasian kawasan antara kawasan lindung, kawasan penyangga, kawasan budi-daya dan sebagainya. “Perusakan hutan harus di hentikan, bila tidak ingin terjadi banjir yang lebih dahsyat lagi,” tuturnya. (cm)

Sumber : Departemen Pekerjaan umum


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: