Posted by: blogklipingppshk | January 16, 2009

Tiga Saudara Menderita Kurang Gizi

tiga-saudaraTiga warga Desa Kuala Dua, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya ditemukan menderita gizi buruk. Ketiganya masing–masing Franky (13), Zacky (13) dan Lika (4), yang masih saudara kandung. Saat ditemui di rumahnya, ketiga bersaudara itu tak ubahnya seperti anak-anak seusianya. Hanya tatapan mata yang sayu dan parasnya pucat. Kondisi inilah yang membedakan ketiganya berbeda dengan anak-anak lain.
Franky dan Zacky terlahir kembar, sedangkan Lika, putri bungsu dari tujuh bersaudara buah hati Radiah (35) dan Aseng (45). Hidupnya jauh dari berkecukupan. Aseng hanya bekerja sebagai buruh bangunan. Sementara Radiah mengurus rumah tangganya. Penghasilan Aseng hanya Rp25-30 ribu setiap harinya. Anak tertua dari pasangan ini baru menginjak kelas lima Sekolah Dasar. Hanya tiga orang saja yang sekolah dari tujuh bersaudara tersebut. Otomatis tidak ada yang membantu Aseng untuk menambah penghasilan keluarga. Radiah mengungkapkan, memasuki usia enam bulan Franky dan Zacky masuk rumah sakit selama seminggu. Keduanya didiagnosa terkena muntaber. Setelah itu keduanya tidak pernah dibawa ke rumah sakit. Sementara Lika, sejak bayi sering sakit–sakitan. Hingga sekarang Lika susah kalau makan nasi. “Mungkin sejak lahir sudah kena gizi buruk, Franky dan Zacky pernah masuk rumah sakit karena muntaber. Kalau Lika, dari bayi sering sakit, sekarang makannya pun susah. Maunya makan enak, kita mana mampu,” ucapnya.

Franky dan Zacky baru bisa berjalan ketika usianya lima tahun. Itu pun masih memegang dinding sebagai alat bantu menopang tubuhnya. “Yang kembar ini (Franky dan Zacky) lama baru bisa jalan, sekitar umur 5 tahun. Itu pun masih pegang dinding kalau berjalan,” tuturnya.

Keluarga ini tidak mampu memenuhi asupan gizi kepada tujuh anaknya. Setiap hari sekeluarga makan hanya dengan ikan asin dan sayur. “Suami hanya buruh bangunan, untuk makan saja susah. Apalagi kalau mau beli susu, seringnya makan dengan ikan asin,” ujarnya.

Radiah mengaku tidak pernah membawa ketiga anaknya itu berobat ke rumah sakit maupun ke Puskesmas. Walaupun tercatat sebagai peserta Askeskin atau Jamkesmas, Radiah kesulitan membawa anaknya ke rumah sakit. “Tidak ada ongkos untuk berangkat untuk biaya transportasi,” katanya.

Saat hamil, Radiah tidak pernah memeriksa kandungannya. Bahkan anak-anaknya tidak dibawa untuk memperoleh imunisasi. Hanya Lika yang pernah sekali mendapat imunisasi. “Jika hamil saya tidak pernah periksa, anak-anak saya juga tidak pernah diimunisasi. Hanya Lika yang pernah diimunisasi sekali,” jelasnya.

Pemerintah Propinsi Kalimantan Barat telah menyediakan 13 pusat pelayanan penanggulangan gizi buruk yang tersebar di seluruh kabupaten kota. Selama 2007, sebanyak 120 kasus gizi buruk yang ditangani. Jumlah itu jauh lebih rendah dibandingkan 2006 yang mencapai 1.152 kasus. Gizi buruk masih menjadi masalah yang harus dibongkar.

Titik-titik rawan penemuan gizi buruk menyebar di semua kabupaten/kota, terutama Kabupaten Pontianak, Sambas, Landak, dan beberapa kabupaten di wilayah timur Kalimantan Barat. Hal ini terjadi karena keterbatasan tenaga medis dalam menjangkaunya yang dipengaruhi oleh letak geografis daerah tersebut. (hen)

Sumber :Pontianak Post, Minggu, 14 September 2008 , 08:02:00


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: